Minggu, 01 September 2019

Merayakan Tahun Baru Islam dengan Cinta

Selamat Tahun Baru Islam!

Mengartikan Cinta dalam Hidup Versi Diri Sendiri

Sebagai seorang perempuan biasa, munafik rasanya bila tidak pernah merasakan cinta.
Cinta kepada Mamah, Ayah, Adik, keluarga besar, sahabat, teman, saudara seiman, saudara sebangsa, bahkan sampai ke lawan jenis sekalipun.

Seperti di blog-ku sebelumnya, aku pernah menceritakan bahwa aku sedang menggemari belajar tentang gender atau lebih tepatnya feminisme. Dan tepat di bulan lalu, aku mengikuti kajian Women's March Serang yang dihadiri oleh Kak Ayu Regina (lulisan Women's Studies, Korea) dan Kak Riska Karina (mahasiswi S2 UI Kajian Gender) yang membahas perihal CINTA (BUKAN) BERARTI BUTUH.

Awal mulanya ketika aku memposting sebuah foto selfie yang didalamnya ada pertanyaan dari orang lain tentang feminisme yang tidak membutuhkan laki-laki. Dan tanggapanku, adalah "aku masih membutuhkan laki-laki untuk ku cintai" namun tanggapan itu langsung dikomentari oleh Kak Ayu yang mengatakan bahwa memang benar, perempuan feminis tidak membutuhkan laki-laki. Aku yang masih belum meamahaminya pun harus menunggu Kak Ayu kembali dari Depok agar bisa berbincang langsung dengannya di Kota Serang.

Dan akhirnya tepat pada tanggal 18 Agustus 2019 Women's March Serang berkumpul di Benteng Speelwijk - Banten Lama. Dari perbincangan tersebut aku hanya bisa menyimpulkan bahwa aku ternyata memang tidak membutuhkan 'dia' yang ku cintai. Tapi melainkan aku hanya ingin bersamanya. Dan aku membutuhkan orang tuaku serta mencintai mereka dengan sangat. Simplenya begini, aku butuh oksigen dan kalau tidak ada oksigen, aku bisa mati. Lalu aku ingin sebuah smarphone dan kalau tidak ada smartphone tersebut aku hanya  gegana (gelisah, galau, merana). Ahahaha

Sampai disini, aku berusaha ikhlas untuk kisah cintaku yang memang selalu tidak jelas arah kebahagiaannya. Bahkan, rasa tak peduliku terhadap keinginan untuk mempunyai pasangan (sebagai kekasih ya, bukan suami) pun mulai menebal dalam prinsip kehidupan diri sendiri.

Yasudah, mungkin sampai disini saja ceritanya.
Artikan cintamu versi dirimu untuk dirimu sendiri dan orang-orang di sekelilingmu.
Salam Cinta, untuk kalian semuađź’™

Senin, 22 April 2019

Hello 2019; Aku yang Mengaku Feminis

Welcome 2019!

Tak terasa, aku mengulur waktu begitu lama untuk memberi kabar pada blog-ku di awal tahun yang (katanya) beresolusi bagi banyak orang ini. Namun seingatku, resolusi hanya tetap menjadi wacana. Atau mungkin memang ada sebagian kecil orang di muka negeri ber-flower ini yang sudah mewujudkan resolusi mereka. Selamat kepada yang sudah mewujudkannya dan, Semangat bagi yang masih berusaha mewujudkan resolusinya. Semoga segera tercapai. Aaamiin.

Di tahun 2019 ini, aku merasa sangat bersyukur masih diberikan kesempatan bisa membuka mata untuk mencicipi aliran sebelah kiri ala Marxis yang kata orang sangat berbahaya jika mengetahui atau mempelajari hal tersebut. Tetapi nyatanya, jika kita mempelajari aliran sebelah kiri dan aliran sebelah kanan atas landasan dasar yang kuat, kita bisa menjadi seseorang yang moderat atau berkecenderungan ke arah dimensi (jalan tengah). Tapi diriku sendiri melirik kedua aliran tersebut hanya untuk mempelajari isu-isu gender yang ada di negeri ber-flower ini. Selebihnya, aku belum tertarik.

Berawal dari sebuah akun instagram Lawan Patriarki yang selalu memberikan edukasi tentang segala macam isu gender, aku mulai memberanikan diri untuk bergabung di grup whatsapp mereka. Kemudian aku ditawarkan untuk ikut gabung juga di grup whatsapp Penghuni Neraka ala akun instagram Warga Negara Internet yang juga membahas isu gender seperti di grup sebelumnya. Dan akhirnya, di grup kedua inilah aku bertemu seorang perempuan yang ternyata kampusnya bersebelahan dengan kampus ku di Banten. Dia seorang mahasiswi fakultas hukum yang juga sedang tertarik dengan isu gender di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Aku dikenalkan kepada komunitas gerakan para feminis di daerah Banten, tepatnya Kota Serang dan sekitarnya. Women's March Serang, namanya. Dan aku bersyukur kembali, karena ternyata di kota yang ku rantaui ini ada fasilitas untuk diriku sendiri untuk mempelajari hal-hal yang saat ini menjadi titik fokusku. Tentu tambah semangat dong pastinya!!

Dan dari WM Serang aku memahami, bahwa di Indonesia ini masih perlu gerakan feminisme. Karena pada dasarnya feminisme di negeri ini masih belum meluas ke masyarakat terpencil dan plosok. Dimana masih banyak perempuan-perempuan yang masih dibatasi baik dalam pendidikan, ekonomi, bahkan sosial. Masih banyak perempuan yang diragukan menjadi seorang pemimpin (mungkin kecuali kalangan elite). Masih banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual, bahkan pemerintah masih jarang menyelesaikan kasus ini. Masih banyak stigma-stigma yang berbasis gender dan seksualitas. Banyak tafsir klasik yang masih jadi pedoman masyarakat, padahal zaman sudah makin modern dan berbeda dari zaman sebelumnya. Dan yang terakhir, masih banyak kasus tentang perkawinan anak dibawah umur. 

Semua itu adalah masalah kita bersama. Sebagai perempuan, seharusnya kita bisa bersatu menyuarakan ketidak adilan di muka  negeri ber-flower ini. Dan satu lagi, tidak hanya perempuan yang harus menggerakkan feminisme, laki-laki yang mempunyai pandangan sama seperti para feminis juga bisa memperjuangkan feminisme. Dengan begitu, Negara Indonesia bisa lebih maju dengan adanya gotong-royong antara laki-laki dan perempuan yang tidak hanya di wilayah domestik (rumah tangga) tapi keseluruh sektor sosial, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.

Terakhir dari saya untuk episode Bulan Karitini kali ini, bulannya emansipasi para perempuan di Indonesia. Selamat Hari Kartini, tentunya untuk para perempuan tangguh seantreo Nusantara. Semoga saya bisa mewujudkan impian saya untuk memberikan pemahaman tafsir hermeneutika tentang kesetaraan gender di negeri ini. Aaamiin.

Senin, 31 Desember 2018

Kilas Balik 2018

Apa Yang Paling Membuatmu Terkesan?

"Patah Hati," jawabku

Ini adalah akhir dari kisah ini. Bagiku, semua ini diperuntukkan diriku sendiri tanpa harus ada yang membacanya lagi. Ini hanya akan menjadi kenangan ku semasa hidupku nanti. Semoga aku akan selalu ingat dengan orang-orang yang ku maksud di catatan ini.

Hai 2018!
Terima kasih sudah memberikan banyak kesan yang ku dapat di tahun ini. Walaupun itu banyak yang sangat menyakitkan, pastinya.

Aku bersyukur pernah merasakan berjuang mempertahankan perasaanku kepada seorang pria yang aku sayangi selama hampir genap satu tahun.
Aku bersyukur bisa kenal lebih dekat dengan seseorang yang tadinya amat tidak aku sukai, setidaknya aku bisa lebih berhati-hati untuk tidak menyukai seseorang ataupun dekat dengan orang lain lagi.

Aku bersyukur punya empat orang sahabat, yang selalu mendengarkan semua keluh kesahku yang itu-itu aja. Aku yakin, mereka pasti bosan. Tapi mereka menyembunyikan semua itu, dan tak lepas memberikan aku nasehat terbaik versi mereka masing-masing.
Aku sayang kalian!

Aku bersyukur punya anggota seperti mereka di konfigurasi tempat ku berproses semasa kuliah ini. Mereka selalu hadir dihidupku dengan warnanya masing-masing. Apapun hasil mereka, asal sesuai dengan yang aku arahkan, aku selalu bangga kepada mereka!
Semoga aku selalu bisa mengarahkan mereka semampu yang aku bisa dan tanpa mereka meminta.

Tenagaku terkuras habis untuk konfigurasi yang ku cintai ini. Tak apa. Aku bahagia, malah! Hanya saja, aku berharap. Setelah mereka aku arahkan, mereka tidak menyakitiku dengan berbalik arah pergi meninggalkan arah jalan yang sudah ku tunjuki. Itu harapanku di tahun 2019 dan seterusnya.

Terima kasih 2018!
Ini sungguh menyakitkan namun, aku tak mungkin bisa untuk tidak tetap tersenyum. Biarkan hatiku yang patah, namun semangat mengabdi dan memberikan yang terbaik ini tidak boleh patah apalagi sirna.
Selanjutnya, akan ada Resolusi 2019 yang harus aku wujudkan!
Semangaaaat!

Jumat, 07 Desember 2018

Inikah Jalan Dari-Nya?

Aku Hanya Perlu Tuntunan~

Hanya bisa melalui do'a yang kau ajarkan

Setelah kisahku berhenti di “Ambisi atau Hati?!” kini, kisahku mulai lagi di kasih yang baru. Kata mereka, aku terlalu mudah untuk jatuh cinta namun paling sulit jika disuruh move on. Yaa, mendengar kata mereka yang seperti itu aku hanya bisa balas dengan kata “wik wik wik wik”

Kasih ku ini dimulai saat aku sedang tidak menyukai seseorang yang menjadi pionir di konfigurasi tempat ku berproses. Entah kenapa aku jadi seperti ini, ditanya oleh temanku pun hanya bisa ku jawab "Aku cuma gak suka dia. Itu aja"

Dan diawal kisah yang tak pernah ku sangka. Kedekatan kami seperti terlihat aneh di beberapa mata temanku yang mulai memperhatikan tingkah kami, bahkan dimataku pun ini sangat aneh!

Awalnya aku hanya bisa berharap.
Oh tidak!
Aku selalu seperti ini.
Berharap pada seseorang yang belum pasti hatinya untuk siapa.

Ya Tuhan, andai aku bisa meminta sesuatu. Aku hanya ingin berjodoh dengannya. Jika memang tidak jodoh, berikan seorang pria yang memang pantas untuk bersanding denganku. Dengan duniaku yang nyaris hancur ini. Dengan diriku yang nyaris menjadi pecandu dunia gelap. Tapi, aku sangat ingin bersama dirinya. Karena dia selalu mengajarkan hal baik yang memang ternyata sangat aku butuhkan. Dia menuntunku. Seandainya dia bukan jodohku, lewat doa yang dia ajarkan padaku, aku ingin memiliki pasangan yang seperti dirinya. Aaamiin.

*****

Kedekatan kami tak berlangsung lama, karena memang seharusnya aku tak berada diantara dia dan kekasihnya. Dia menyudahi semua kedekatan ini sebelum semuanya sangat terlambat. Walaupun sebenarnya dimataku sudah nyaris terlambat.

Kembali lagi seperti di kisah kasih pertama.
Aku ikhlas. 
Apapun yang terjadi, hatiku akan kembali pulih. Walaupun dengan waktu yang lumayan lama. Tapi mulai sekarang, aku tak ingin menaruh harapan apapun pada seorang pria. 
Sudah cukup~

Senin, 03 Desember 2018

Ambisi atau Hati?!

Rasa Ingin Memiliki~

Hanya dalam kata "Sebatas Pernah"

Aku adalah seorang wanita yang bisa dibilang paling membawa perasaan dalam berbagai hal apapun. Kadang aku merasa itu ada baiknya untuk melatih kata-kata dalam pembuatan quote. Tapi yang jelas banyak buruknya juga dimata orang-orang sekitarku.
"Ahh, elu sih baperan! Dia tuh ngetik pake jari, elu malah ngetiknya pake hati"

Yaa, memang jika menuruti apa kata omongan orang lain jelas gak ada habisnya. Begini salah, begitu salah. Sama seperti kalo kita terus mengikuti perkembangan zaman.

Pertengahan bulan desember tepatnya tahun kemarin, aku menjatuhkan hati pada seorang pria yang kalo kata orang dia itu jelek. Pokoknya kriteria orang yang aku suka selalu diluar batas nalar wanita lain dalam menyukai seorang pria. Aku gak peduli. Sekali lagi, aku tidak pernah peduli apa kata mereka. Sekalipun salah satu diantara mereka itu adalah sahabat terbaikku yang berbicara.

Aku suka dia. Apapun yang dia lakukan.
Aku sayang dia. Apapun yang dia perbuat.
Aku cinta dia, cinta, cinta, dan cintaaa~

Selalu itu yang ku sebut dalam hati, entah pria itu tau atau tidak. Aku tidak peduli. Sesaat aku hanya bisa memilikinya dalam khayal, memeluknya dalam do'a pada Tuhanku agar pria itu menjadi pelabuhan hati terakhir dalam hidupku.

Awalnya kedekatan kami seperti biasa, sebatas teman. Hingga suatu saat dia mengetahui apa yang aku rasakan padanya, dan kedekatan kami berubah menjadi "teman" yang dikucilkan hanya karena sebuah perasaan, heuheu

Katanya, hanya dengan berjuang orang akan merasa terharu. Namun, makin lama malah aku yang merasa dibodohkan oleh hati. Ada gitu ya, seorang perempuan yang lebih dulu mencintai seorang pria dan disuruh berjuang "sendiri" demi pria tersebut?

Ada, katanya. Bahkan dia langsung menceritakannya padaku. Bahwa dia pernah membaca di sebuah buku, entah apa itu nama bukunya. Ada seorang wanita yang sangat mencintai seorang pria hingga sang wanita tersebut memberanikan diri datang ke rumah pria tersebut dan berbicara kepada kedua orang tua pria tersebut. "Pak, Bu. Saya sangat mencintai anak Bapak dan Ibu. Saya berharap anak Bapak dan Ibu ini sudi kerumah saya untuk bertemu dengan kedua orang tua saya sekaligus melamar saya."

Menakjubkan!
Hebaat!
Andai...

Ah, sudahlah!
Aku tidak akan mungkin seperti itu, walaupun sebenarnya aku sangat ingin. Tapi aku bukan Khadijah yang mempunyai banyak harta dan bisa melamar Rasulullah SAW. Aku adalah Khadijah di masa milenial yang hanya masih bisa mengandalkan harta orang tua.

Dan saat itu pada bulan agustus lalu, sudah ku putuskan bahwa aku hanya meyayanginya.
Aku ikhlas~

Memosisikan Diri Sebagai Leeteuk Super Junior

  Happy15thAnniv_WalkTogether! Park Jung Soo a.k.a Leeteuk Super Junior Bagiku, sosok Leeteuk wajib dicintai. Jangankan aku, ELF (sebutan  p...